Sebelum ke Bali, saya melihat penampakan Taman Festival Bali ini dari channel youtube “Exploring with Josh”. Akhirnya setelah merantau ke Bali saya mengunjungi tempat ini. Beberapa tempat lainnya yang sempat diliput oleh Exploring with Josh yang sempat saya lihat dari luar (tidak masuk ke dalam) adalah bangkai pesawat terbengkalai dan bangunan hotel yang terbengkalai di Bedugul.
Dua kali sudah saya masuk dan berjalan-jalan ke dalam Taman Festival Bali yang terletak di Padang Galak ini. Pertama kalinya, pada sore hari setelah saya mengunjungi Pura Campuhan Widhu Segara. Disini kondisi terlihat sepi dan hanya ada dua orang cowok yang mungkin sedang melali juga. Saya waktu itu pergi berdua dengan teman cewek.
Pertama kalinya saya hanya berfoto dan melihat-lihat bagian depannya saja, tidak masuk sampai ke dalam. Kedua kalinya, saya ke sana berlima orang bersama teman-teman saya dan kami pergi waktu malam. Karena pergi berlima sehabis dari pantai Sanur, saya gak ngerasa takut sama sekali. Katanya juga sih penunggunya itu sudah didoakan semua jadi aman untuk penggunjung buat datang.
Kali kedua ini saya sempat bertemu dengan penjaga Taman Festival yang menceritakan apa yang terjadi pada taman tersebut. Ajik sendiri telah terlibat lama di taman ini, sekitar lima belas tahun namun terlibat resminya baru selama dua tahun. Saya akan tuliskan rangkuman mengenai taman ini dari hasil ngobrol saya dengan Ajik yang menjaga taman saat itu.
Jadi taman ini dibuka hanya satu setengah tahun, pada pertengahan 1999 taman ini sudah tutup. Pada saat itu biaya oprasional dari pemegang saham jadi akhirnya taman ini di tutup.
Ajik menjekaskan jika disini bukan wisata kemewahan namun wisata ikonik, berbeda, berkesan dan memiliki sejarah tertentu, lebih nuansa gaibnya. Ajik juga menjelaskan jika setiap hari dirinya sudah melaksanakan ritual sehingga suasana di dalam taman ini lebih bersahabat.
Menurutnya tempat yang auranya kuat ada di taman depan gedung tiga dimensi. Terdapat penunggu yang berwujud wanita, ular dan lainnya yang berada disana. “Namun mereka semua bersahabat dan tidak menakut-nakuti karena masih tergolong dengan kombinasi astral yang merupakan penunggu asal muasal temat ini sejak lama. Agar tidak abrasi atau tenggelam tempat ini maka diperkuat dengan beliau, sangat baik itu semua,” jelas AJik
Ada juga penunggu yang berada di tempat bergambar barong. “Disana dulunya adalah gambar mata, penunggunya yang tinggi besar,” Ajik juga menceritakan jika penunggu yang satu ini meninggalkan kesar tersendiri buat dirinya.
Ada pula pengalaman penggunjung yang tidak masuk melalui depan sehingga berakibat buruk kerena penggunjung tersebut tiba-tiba berteriak-teriak. Sebaiknya pengunjung masuk melewati depan atau Ajik untuk ijin terlebih dahulu agar tidak terjadi hal buruk dan di dalam semua baik. Pengunjung tersebut pun ahirnya di bawa ke Pura untuk di netralisir.
Tips menurut Ajik jika inggin berwisata ke taman ini adalah mengikuti aturan yang ada selanjutnya ijin pada penggunjung yang disini, baik yang kasat mata dan juga yang berada di dunia lain. Perihal sesajen, penjaga taman telah melakukannya namun jika inggin melakukan acara yang agak besar, bukan hanya berjalan-jalan, semeton bisa membawa pejati unuk minta ijin pada penunggu si tempat ini.
Jika ingin mengunjungi sisi mistis Bali, semeton bisa menggunjungi tempat ini.
Thanks for reading !! ^^

