Tabanan, Kata Jurnal – Nuanu Creative City akan menggelar perayaan Tahun Baru Imlek melalui rangkaian program budaya selama empat hari di kawasan Nuanu, Bali. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 14–17 Februari 2026, dengan konsep perayaan yang menyatu di berbagai ruang dalam satu kawasan kreatif.
“Kami membangun Nuanu lewat rangkaian momen budaya yang hadir secara konsisten,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Director of Brand and Communications Nuanu, dalam keterangan pers tertulis. “Dengan merancang program yang tersebar di seluruh kawasan, kami menciptakan ruang kolaborasi yang lebih dekat dengan seniman dan komunitas, sekaligus memungkinkan berbagai ekspresi budaya hadir dalam satu ekosistem,” katanya.
Perayaan Imlek di Nuanu dikemas dalam format mikro-festival yang tidak terpusat di satu lokasi. Pengunjung diajak berpindah dari satu area ke area lain, menyusuri ruang publik, taman, dan venue yang saling berdekatan, sehingga pengalaman perayaan terbentuk melalui perjalanan di dalam kawasan.
“Dengan cara ini, budaya tidak hanya dipresentasikan, tetapi menjadi bagian dari ruang dan keseharian di Nuanu,” ujar Ida Ayu Astari Prada. Pendekatan ini didukung oleh karakter kawasan yang terbuka dan ramah pejalan kaki, dengan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil serta dukungan shuttle listrik publik yang menghubungkan area-area utama.
Setiap malam, rangkaian acara dibuka dengan pertunjukan Barongsai dan Barong Bangkung sebagai penanda dimulainya perayaan Tahun Baru Imlek, sekaligus membangun suasana perayaan di seluruh kawasan. Program malam hari berpusat di Labyrinth DOME dengan sajian pertunjukan berskala intim dan sesi musik yang berganti setiap hari.
Sorotan program malam mencakup Invisible Magic, pertunjukan jarak dekat oleh pesulap dan seniman pertunjukan asal Hong Kong, Chen Ting, serta DJ set dan sesi musik atmosferik bersama Keigo Tanaka, Waxwood, Culcha Collective, dan Roba Grow. “Program ini menghadirkan pengalaman bersama yang berfokus pada ritme, suara, dan kehadiran,” kata Ida Ayu Astari Prada.
Selain itu, Labyrinth Art Gallery menghadirkan program bertema teh sepanjang empat hari perayaan. Program ini mencakup sesi minum teh terpandu dan pameran teh terkurasi, yang mengajak pengunjung untuk sejenak berhenti dan memberi perhatian pada teh sebagai praktik budaya lintas tradisi.
Sementara pada 16 dan 17 Februari 2026, Lunar New Year Cultural Showcase digelar pada siang hingga awal malam hari dengan pertunjukan terbuka di ruang publik yang mudah diakses. Program ini melengkapi rangkaian malam hari dan membuka kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana perayaan yang berbeda.
Secara keseluruhan, rangkaian Tahun Baru Imlek ini mencerminkan cara Nuanu memandang budaya sebagai sesuatu yang dibangun secara berkelanjutan melalui program yang berakar pada konteks tempat, kolaborasi jangka panjang dengan seniman, serta keterlibatan publik yang terus berkembang.
(Foto: Nuanu Creative City)

