Tabanan, Kata Jurnal – Nuanu Creative City menggelar Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders 2.0 di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City, Tabanan, Bali, Kamis (3/7). Forum ini mempertemukan lebih dari 500 pelaku industri hospitality, mulai dari pemilik restoran, chef, investor, pemasok, hingga praktisi industri makanan dan minuman untuk membahas arah pengembangan ekosistem kuliner Bali.
Acara diawali pada pukul 10.00 WITA dengan sesi Grounding & Breathing Practice yang dipandu Co-Founder Alchemy, Ashton Szabo. Selanjutnya, pada pukul 10.25 WITA, Director of Brand & Communications Nuanu, Ida Ayu Astari Prada, menyampaikan sambutan pembuka yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas pelaku industri untuk membangun ekosistem kuliner Bali yang inovatif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Mengusung semangat kolaborasi dan pertumbuhan yang bertanggung jawab, konferensi ini menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai berbagai tantangan yang dihadapi industri restoran di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali. Sejumlah isu strategis yang dibahas meliputi efisiensi operasional, profitabilitas, pengelolaan sumber daya manusia, penguatan brand, manajemen reputasi, serta strategi membangun bisnis yang berkelanjutan.
Pada pukul 10.35 WITA, Chef Thi Le dari Anchovy, Melbourne, membawakan presentasi bertajuk This Is Still Vietnamese – Why Cooking Your Heritage Far From Home Doesn’t Make It Any Less Real. Sesi tersebut mengangkat kisah mengenai bagaimana identitas budaya tetap dapat dipertahankan melalui kuliner meski dikembangkan di luar negara asal.
Forum kemudian berlanjut pada pukul 10.55 WITA melalui diskusi bertajuk The Past and Future of Indonesian Cuisine: Who Calls the Shots on the World Stage? yang menghadirkan Chef Will Goldfarb dari Room4Dessert, Sabrina Alatas dari Grumpy Chef, serta dimoderatori Ray Janson. Diskusi membahas perkembangan kuliner Indonesia di kancah internasional, tantangan yang dihadapi, serta peluang memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi gastronomi dunia.
Will Goldfarb mengatakan, “Ada kesadaran dan perhatian penuh (mindfulness). Orang-orang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal cita rasa seperti ini, atau mereka menyadari bahwa mereka sedang berupaya untuk tidak mengambil atau mengklaim budaya orang lain secara tidak semestinya (cultural appropriation).”
Ia menambahkan, “Kami melihat bahwa setelah satu minggu, semua orang memasak bersama, makan bersama, pergi ke pantai bersama, menggunakan bahan-bahan lokal, berbagi persediaan bahan makanan yang sama, dan saling memberikan dukungan yang sama.”
Menurutnya, “Ketika Anda berada di Bali, semangat berada di Bali adalah menyadari bahwa Anda memang sedang berada di Bali. Hal ini sangat memikat, dan menurut saya, salah satu kekuatan terbesar Indonesia, Bali, dan kulinernya adalah adanya identitas yang benar-benar lokal.”
Dalam kesempatan tersebut, Nuanu Creative City juga memaparkan pengembangan distrik kuliner seluas 17.000 meter persegi yang akan menghadirkan lebih dari 50 tenant dengan fokus pada pengalaman kuliner dan gaya hidup. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu destinasi gastronomi unggulan di Asia Tenggara.
Forum ini didukung oleh Bali Restaurant & Café Association (BRCA), Bali HoReCa Club (BHC), dan Bali Culinary Pastry School (BCPS). Para pembicara berasal dari berbagai latar belakang, termasuk chef fine dining, pendiri grup restoran, jurnalis kuliner, hingga praktisi di bidang kopi, minuman, dan keberlanjutan.
Selain membahas tantangan industri saat ini, para peserta juga mengeksplorasi berbagai peluang melalui model bisnis baru, seperti dark kitchen, layanan berbasis pengantaran, serta konsep restoran hibrida. Diskusi turut menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri kuliner dengan pelestarian budaya dan identitas Bali.
Acara berlangsung hingga pukul 19.00 WITA dan ditutup dengan After Party. Melalui penyelenggaraan Nuanu Future Talks: Gastronomy Leaders 2.0, Nuanu Creative City berharap kolaborasi antarpelaku industri dapat terus berkembang sehingga mampu memperkuat daya saing sektor kuliner Bali di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus mendorong terciptanya industri yang lebih inovatif, tangguh, dan berkelanjutan.
(Foto: Kata Jurnal)

