Tabanan, Kata Jurnal – Fight For A Cure edisi keempat kembali digelar di Block 42, Nuanu Creative City, Bali, pada 3 Oktober 2026. Kegiatan yang digagas Germ Cell tersebut mempertemukan lebih dari 30 gym dari berbagai penjuru Bali, 40 petarung, dan lebih dari 1.500 pendukung untuk menggalang dukungan bagi riset kanker.
“Bagi banyak orang yang terlibat dalam Fight For A Cure, kanker adalah sesuatu yang sangat personal. Banyak dari mereka yang pernah kehilangan orang terdekat, atau melihat orang yang mereka sayangi berjuang melawan kanker. Fight For A Cure menjadi salah satu cara untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berarti. Banyak petarung yang naik ring untuk mewakili mereka yang tidak bisa melakukannya sendiri,” ujar Kai Suteja, Founder Germ Cell.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Nuanu Social Fund (NSF) meningkatkan dukungannya untuk inisiatif tahunan Germ Cell hingga hampir Rp117 juta atau sekitar US$6.500. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontribusi Rp45 juta atau sekitar US$2.500 pada 2025.
Peningkatan dukungan tersebut melanjutkan momentum penyelenggaraan tahun sebelumnya sekaligus mencerminkan investasi berkelanjutan NSF pada inisiatif berbasis komunitas yang memiliki dampak sosial terukur.
Dampak Germ Cell juga terlihat dari cakupan dukungannya terhadap riset kanker. Hingga kini, Germ Cell telah menyalurkan sekitar Rp1,5 miliar atau US$83.000 untuk riset kanker, termasuk mendukung kegiatan di Chris O’Brien Lifehouse serta penelitian yang dipimpin Kim Alexander dan Jeremy Crook.
Riset yang didukung Germ Cell mencakup sejumlah tantangan dalam penanganan kanker, mulai dari deteksi dini dan pengenalan kekambuhan hingga pengembangan terapi yang lebih efektif untuk jenis kanker agresif. Kim Alexander meneliti apakah tes darah sederhana dapat membantu mendeteksi kembalinya glioblastoma sekaligus memantau respons pasien terhadap pengobatan. Sementara itu, Jeremy Crook mengkaji cara agar obat kanker dapat menjangkau sel tumor dengan lebih efektif.
Pendanaan untuk Chris O’Brien Lifehouse juga mendukung riset dan layanan perawatan kanker yang lebih luas di lembaga tersebut.
Germ Cell didirikan oleh Kai Suteja, penyintas kanker yang dua kali berhasil melawan penyakit tersebut. Inisiatif tersebut berawal dari komunitas kebugaran Bali dan kemudian berkembang menjadi acara penggalangan dana tinju tahunan yang menghubungkan petarung, gym, pelaku usaha, dan pendukung lokal dengan riset kanker.
“Menang atau kalah, kemenangan yang sebenarnya adalah dana yang berhasil kami kumpulkan untuk mendukung riset kanker. Dengan sains yang lebih baik, kita bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, dan saya rasa itu adalah sesuatu yang bisa didukung oleh semua orang,” ujar Kai Suteja.
Sejumlah petarung juga memiliki alasan personal dalam mengikuti kegiatan tersebut. Anatoli dari Lions MMA kehilangan bibinya akibat kanker darah saat masih kecil. Pengalaman tersebut turut mengantarkannya ke dunia tinju dan tahun ini ia bertarung untuk mengenang sang bibi.
Sementara itu, Jake dari The Block mendedikasikan pertandingannya untuk kedua orang tuanya yang sama-sama telah berhasil melewati kanker.
Menurut Head of Nuanu Social Fund Ida Ayu Astari Prada, peningkatan kontribusi NSF merupakan bentuk komitmen terhadap inisiatif yang telah menunjukkan partisipasi komunitas yang konsisten di Bali serta memiliki tujuan sosial yang jelas.
“Kami meningkatkan dukungan karena Fight For A Cure telah membuktikan kemampuannya dalam menggerakkan komunitas dan mengubah partisipasi tersebut menjadi dukungan yang nyata,” kata Ida Ayu Astari Prada.
Fight For A Cure edisi keempat berlangsung pada 3 Oktober 2026 di Block 42, Nuanu Creative City. Kegiatan tersebut terus menyatukan komunitas kebugaran Bali untuk mendukung riset kanker dan memperluas dampak upaya kolektif tersebut hingga melampaui ring.
Nuanu Perkuat Dukungan Fight For A Cure

