Kata Jurnal ✧˖°.

❝ Setiap Kata Punya Cerita ❞

Gang itu terlihat biasa, tapi bagi Bella, hidupnya sempurna. Rumahnya rapi, anak-anak ceria, suami perhatian, dan paket datang setiap minggu—baju, peralatan rumah, lilin aromaterapi cantik. Semua terlihat normal, bahagia, dan harmonis. Tetangga lain melihatnya sebagai wanita biasa yang beruntung, hidupnya tampak tanpa cela.

Tetangga sebelah, Alya, hidup jauh berbeda. Rumahnya sempit dan berantakan, anak-anak rewel, suaminya mulai berselingkuh, dan uang selalu pas-pasan. Setiap paket Bella membuatnya semakin panas oleh rasa iri dan cemburu. Lama-kelamaan, rasa sirik itu mendorong Alya untuk mulai mencuri paket-paket Bella, membuka sebagian isinya, mengambil barang yang menarik, lalu menyisakan sisanya seolah tidak terjadi apa-apa. Setiap kali berhasil, hati Alya berdebar, rasa puas bercampur dengan rasa bersalah kecil yang ia abaikan.

Bella tentu menyadari apa yang dilakukan Alya. Namun, ia tetap bersikap ramah, menatap tetangganya dengan senyum tipis yang tidak menyingkap niat sebenarnya. Alya sama sekali tidak curiga bahwa di balik keramahan itu, Bella diam-diam merencanakan balas dendam.

Suatu hari, sebuah paket baru tiba. Kotak cokelat rapi, lilin aromaterapi putih yang cantik, wangi vanilla-lavender, tampak seperti hadiah biasa. Alya mengambilnya tanpa ragu, membayangkan malam yang tenang sambil menikmati aromanya. Ia tidak tahu bahwa paket itu berbeda. Lilin itu telah dimantrai oleh Bella, seorang penyihir yang menguasai energi halus dan kekuatan untuk menyalurkan karma secara langsung. Lilin itu dirancang untuk menargetkan siapa pun yang penuh iri dan keserakahan.

Saat malam tiba, Alya menyalakan lilin itu di ruang tamu. Aroma manis memenuhi udara, sejuk dan hangat di awalnya, membuatnya tersenyum lega. Namun, seketika itu juga, efek lilin mulai terasa. Jantungnya berdebar kencang, kepala terasa berat, dan napasnya menjadi tersengal. Bayangan di sudut ruangan bergerak, memanjang dan menempel pada dinding seolah tangan tak terlihat menahan langkahnya. Suara-suara samar mulai muncul, mendesah, berbisik, dan menirukan gerakan Alya sendiri.

Panik, Alya mencoba memadamkan lilin, tetapi api itu tetap menyala seakan menolak kehendaknya. Aroma wangi yang seharusnya menenangkan kini merayap masuk ke pikirannya, menimbulkan ketegangan dan rasa terjebak yang menekan setiap sudut kesadarannya. Bayangan-bayangan tampak menempel pada tubuhnya, mengikuti setiap gerakan, membuatnya merasa seolah seluruh rumah hidup dan menertawakan keserakahannya.

Ia mulai melihat hal-hal yang tidak masuk akal: wajah Bella muncul di cermin, di balik pintu, di setiap refleksi kaca, tersenyum tipis dan menatapnya dengan dingin. Setiap langkah terasa salah, setiap napas terasa berat. Napas yang seharusnya biasa kini terdengar menggema di seluruh rumah, seakan ada yang menghitung setiap detik kehidupannya. Anak-anaknya menangis, takut pada ibunya yang pucat dan gemetar. Suaminya semakin menjauh, tidak mengerti apa yang terjadi, hanya menyaksikan rumahnya seakan berubah menjadi perangkap hidup bagi Alya.

Tetangga lain di gang mendengar teriakannya malam itu. Lampu berkedip, benda-benda kecil bergerak sendiri, dan seluruh rumah Alya terasa hidup menyerangnya. Satu lilin, satu nyala, dan karma langsung menghantamnya tanpa ampun. Alya merasakan sendiri bagaimana keserakahan, iri, dan keserakahan kecilnya kini berbalik menghancurkan hidupnya.

Bella menonton dari rumahnya sendiri, wajahnya tetap tenang, senyum tipisnya tidak berubah. Ia tahu lilin itu bukan sekadar lilin aromaterapi, melainkan perwujudan sihir dan balas dendam. Karma bekerja dalam satu nyala, dan Alya tidak bisa melarikan diri dari efeknya.

Sejak malam itu, Alya tidak pernah merasa aman. Setiap paket yang datang, setiap lilin yang tampak cantik di rumahnya, selalu menimbulkan hawa menekan, menakutkan, dan mencekam. Rumahnya sendiri terasa menyalurkan ketegangan itu ke setiap sudut pikirannya. Bella, di rumahnya sendiri, tersenyum tipis, mengetahui bahwa karma datang tepat waktu, dan rasa iri serta keserakahan sekecil apa pun dapat menghancurkan hidup pelakunya dengan cara yang paling tidak terduga.

(Foto: Ilustrasi/Pixabay)


Tinggalkan komentar