Kata Jurnal ✧˖°.

❝ Setiap Kata Punya Cerita ❞

Di gang yang sempit itu, semua orang tahu bahwa rumah nomor 12 dihuni oleh pasangan Sulastri dan Rangga dengan dua anak kecil mereka. Sulastri dikenal sebagai tetangga yang keras, kasar, dan suka memancing masalah. Ia sering memarahi anak-anak tetangga lain, menuduh mereka mencuri, atau sengaja menyiram halaman orang lain dengan air cucian busuk. Ia hidup dari rasa iri, selalu membandingkan dirinya dengan orang sekitar.

Ketika sebuah keluarga baru pindah ke rumah nomor 10, pasangan muda bernama Alya dan Tegar, hidup Sulastri makin dipenuhi kebencian. Alya hidup tenang, rapi, halus, dan jarang mencampuri urusan siapa pun—dan justru itu yang membuat Sulastri semakin muak.

Ia mulai mengamati rumah Alya setiap hari, mencari-cari kesalahan kecil untuk dijadikan alasan marah. Suatu malam ia menggedor pintu Alya hanya karena lampu teras dianggap terlalu terang. Siang hari ia mengumpat dari balik jendela, menyebut Alya “sombong”, “pura-pura suci”, “sok bahagia”.

Semakin waktu berjalan, tingkah Sulastri semakin aneh. Alya sering melihatnya berdiri di halaman tengah malam, menatap kosong ke arah rumahnya. Kadang terdengar suara piring pecah, bentakan Rangga, dan tangisan anak-anak mereka. Gang itu sudah terbiasa, tapi Alya merasa ada tekanan gelap yang terus tumbuh di rumah itu—seperti ada sesuatu yang siap meledak kapan saja.

Dan malam itu akhirnya datang.




Hujan deras mengguyur gang. Angin menusuk, dan dari rumah nomor 12 terdengar suara gaduh: suara lemari terbalik, jeritan tertahan, dan sesuatu yang jatuh menghantam lantai. Alya dan beberapa tetangga keluar, saling berpandangan cemas. Namun rumah Sulastri tetap gelap, seolah menelan suara-suara itu ke dalam perutnya.

Tak ada seorang pun berani mengetuk. Mereka sudah terlalu terbiasa dengan pertengkaran keluarga itu.

Pukul dua dini hari, gang tiba-tiba senyap. Bahkan hujan pun seperti menahan suara.

Esok paginya, ketika matahari baru muncul, Alya mencium bau aneh—seperti logam dan tanah basah. Nalurinya mendorongnya mendekat ke rumah sebelah. Pintu depan sedikit terbuka. Ia memanggil pelan.

Tidak ada jawaban.

Ketika ia mendorong pintu lebih lebar, pemandangan yang menunggu membuatnya mundur dengan tubuh gemetar.

Rangga terbaring di lantai ruang tamu, tubuhnya penuh luka tusukan. Dua anak mereka tergeletak di kamar, tertutup selimut, wajah pucat tak bernyawa.

Dan Sulastri…

Ia ditemukan tergantung di dapur dengan tali kain kusam, wajahnya kaku dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan—penuh kelelahan, marah, dan ketakutan sekaligus.

Di meja dapur, ada tulisan dengan pensil tumpul:

“Aku hanya ingin semuanya diam.”

Polisi menyimpulkan satu hal yang tidak bisa dibantah:
Sulastri membunuh suami dan anak-anaknya dalam kondisi depresi berat, lalu mengakhiri hidupnya sendiri.




Setelah kejadian itu, gang menjadi hening untuk waktu yang lama. Alya pindah beberapa bulan kemudian, tak sanggup menghadapi jejak tragedi itu. Tapi yang paling mengerikan bukanlah darah, bukan mayat, bukan cerita yang tertinggal…

Melainkan bisikan yang kadang terdengar dari rumah nomor 12 saat malam tiba.

Tetangga yang tinggal paling dekat sering mendengar langkah kecil berlari-lari, suara kursi diseret, atau suara seorang wanita yang berkata pelan dari dalam rumah gelap:

“Diam… diam… semua harus diam…”

Seolah tragedi itu masih berulang, malam demi malam, menggemakan stres, kemarahan, dan kesunyian yang menelan satu keluarga secara utuh.

(Foto: Ilustrasi/Pixabay)


Tinggalkan komentar