Gianyar, Kata Jurnal – Upaya menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali kembali dilakukan melalui Arma Fest 2026 di Ubud, Gianyar. Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, festival kali ini mengangkat tema “Living Tradition” yang menempatkan tradisi sebagai bagian dari kehidupan yang terus berkembang.
Ketua Yayasan Arma, Agung Yudi, mengatakan festival tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap seni dan budaya.
“Arma Fest tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni. Festival ini dirancang menjadi ruang bagi budayawan, seniman, komunitas, serta generasi muda untuk bertemu, berinteraksi, dan berkreasi, “kata Ketua Yayasan Arma, Agung Yudi saat acara Press Confrence di Arma Ubud, Sabtu (19/9).
Keterlibatan seniman dalam festival tahun ini cukup luas. Sedikitnya sembilan sekehe baleganjur dari sejumlah daerah di Bali mengikuti lomba baleganjur ngarap. Jika dihitung secara keseluruhan, ada 895 seniman dari berbagai komunitas dan latar belakang seni ikut ambil bagian dalam Arma Fest 2026.
Menurut Agung Yudi, penyelenggaraan festival merupakan bagian dari peran Arma dalam memberikan ruang bagi perkembangan seni dan budaya. Kehadiran generasi muda menjadi salah satu perhatian, terutama agar terjadi kesinambungan antara pelaku seni dari generasi berbeda.
“Arma Fest ini merupakan bentuk tanggung jawab Arma di bidang seni dan budaya. Kami ingin memberikan ruang dan kesempatan bagi budayawan dan generasi muda untuk berkreativitas, sekaligus menjadi penghubung antara generasi muda dengan generasi seniornya,” ujar Agung Yudi.
Ia berharap ruang yang tersedia dalam festival dapat digunakan untuk mempertemukan berbagai pihak dan menghasilkan kolaborasi.
“Ruang ini kami harapkan bisa dimanfaatkan dengan baik.”
Agung Yudi melanjutkan bahwa kesempatan untuk berinteraksi tersebut terbuka bagi generasi muda, seniman, budayawan, serta pihak lain yang memiliki perhatian terhadap bidang seni dan budaya.
“Di sana ada kesempatan untuk bersinergi, antara generasi muda, para seniman, budayawan, dan semua pihak yang memiliki perhatian terhadap seni dan budaya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti perjalanan Arma yang telah mencapai usia 30 tahun. Perjalanan tersebut disebut tidak terlepas dari hubungan dan keterlibatan banyak pihak.
“Arma bukan milik seseorang. Arma menjadi besar karena hubungan dan keterlibatan semuanya. Sampai sekarang Arma sudah berusia 30 tahun, dan itu menjadi kebanggaan bagi kami,” ujarnya.
Mempertahankan nilai-nilai yang telah menjadi bagian dari perjalanan Arma juga menjadi perhatian. Namun, Agung Yudi menilai pelestarian seni dan budaya tetap perlu berjalan selaras dengan perubahan zaman.
“Kami ingin tetap menjaga laras dan roh Arma, bagaimana seni dan budaya tetap ajeg dan lestari, tetapi juga bisa hadir dengan gaya kekinian,” kata Agung Yudi.
Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan upaya membangun jembatan rekonstruksi budaya. Menurut Agung Yudi, keberadaan tradisi tetap penting, tetapi perlu membuka ruang dialog dengan perkembangan kehidupan masyarakat saat ini.
“Ini menjadi jembatan untuk rekonstruksi budaya. Budaya harus tetap dipertahankan, tetapi juga harus bisa berdialog dengan perkembangan zaman. Itu menjadi bagian dari visi dan misi Arma,” ujarnya.
Sementara itu, General Manager Arma Museum & Resort, Made Suhartana, mengatakan pemilihan tema “Living Tradition” berkaitan dengan gagasan untuk menjadikan budaya sebagai sesuatu yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia menambahkan, perkembangan pariwisata Bali yang semakin dinamis membuat aspek budaya perlu mendapat perhatian. Pariwisata tidak hanya menyangkut destinasi maupun jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga bagaimana keberlanjutan budaya tetap menjadi bagian dari identitas Bali.
Arma Fest 2026 Dorong Regenerasi Seni dan Budaya

