Denpasar, Kata Jurnal – WALHI Bali menggelar Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) di Sekretariat WALHI Bali, Jl. Dewi Madri IV, No. 2, Denpasar – Bali, pada 19 Juli 2018. Pertemuan yang digelar sekali dalam empat tahun tersebut menjadi momentum pergantian pengurus WALHI Bali.
Dalam PDLH yang berlangsung selama satu hari itu, Anak Agung Gede Surya Sentana terpilih sebagai Direktur Eksekutif WALHI Bali periode 2026-2030 menggantikan Made Krisna Dinata, Direktur Eksekutif WALHI Bali periode 2022-2026. “Hak-hak lingkungan hidup bagi rakyat semestinya harus tetap diperjuangkan,” kata Gung Surya selaku Direktur terpilih WALHI Bali periode 2026-2030.
Selain pergantian pengurus, PDLH juga menyusun program kerja organisasi, salah satunya penyelamatan alam dari proyek perusak lingkungan.
Sebelum pemilihan Direktur Eksekutif Daerah WALHI Bali, organisasi tersebut meluncurkan dokumen Kondisi Terkini (State Of The Art) Lingkungan Hidup di Bali. Dokumen itu berisi persoalan ekologis yang semakin kompleks dan mengkhawatirkan, mulai dari krisis air, alih fungsi lahan pertanian, kerusakan pesisir, degradasi mangrove, reklamasi, ledakan industri pariwisata, hingga bencana ekologis.
Gung Surya menegaskan, pergantian Direktur WALHI Bali tidak menurunkan semangat organisasi untuk tetap melakukan penyelamatan lingkungan hidup dari proyek-proyek yang merusak alam. WALHI Bali tetap berkomitmen melawan proyek-proyek ekstraktif yang merusak alam agar dihentikan.
Lebih lanjut, Gung Surya menjelaskan momentum pergantian pimpinan tidak mengubah semangat perjuangan WALHI Bali untuk terus mengawal dan mengadvokasi berbagai proyek ekstraktif yang merusak alam. “Maka tidak jarang hukum yang diubah untuk memuluskan investasi proyek di Bali. WALHI Bali mengecam atas tindakan yang dilakukan Pemerintah tersebut,” ujarnya.
Menurut Gung Surya, situasi saat ini menunjukkan kekuasaan secara terang-terangan telah melakukan perusakan lingkungan hidup. Investasi di Bali disebut tidak tunduk kepada hukum, melainkan hukum yang mengikuti nafsu investasi.
Ia juga menerangkan agar investasi tidak sampai menghancurkan Pulau Bali karena praktik investasi saat ini haus lahan dan air. “Sehingga investasi di Bali menggerus lahan produktif, salah satunya lahan pertanian,” jelasnya.
Selain memilih Direktur Eksekutif Daerah WALHI Bali, PDLH 2026 WALHI Bali juga memilih Dewan Daerah. Dewan Daerah terpilih yakni I Made Juli Untung Pratama, Dewa Putu Alit Sunarya, dan I Wayan Sathya Tirtayasa.
(Foto: WAHLI Bali)

